10 Feb

Ruang Raung

 

 

Sebut saja namanya Pletho. Remaja berusia kurang lebih 16 tahun ini berkeliaran di jalanan, bersama sekitar 24 orang temannya tinggal dan mencari nafkah di sekitar Jl. Mangkubumi hingga perempatan Tugu Yogyakarta. Julukan untuk mereka cukup eksotis, dalam rangka menaikkan derajat kita sebagai manusia normal, serta memarjinalkan mereka, lantas kita menyebut mereka “anak jalanan.” Anak-anak yang tinggal di jalanan. Konon mereka tidak menjadi manusia karena tinggal di jalanan, sedangkan kita yang punya standar hidup (yang kita anggap normal) sesuai jaman sekarang mengganggap diri kita berhasil menjadi manusia.

 

Memang parameter untuk menjadi manusia itu seperti apa sih? Jika dinilai secara kasat mata, asalkan dia berkaki dua dan berjalan tegak dan berpakaian bukankah itu manusia? Anak-anak kurang beruntung yang berkeliaran di seputaran Tugu Jogja itupun adalah manusia. Tapi pernahkah kita menilai mereka sebagai manusia? Saat kita memburu eksotisme Jogja dengan berfoto di tugu, pernahkan kita memperhatikan mereka sebagai manusia?

 

Lihat pos aslinya 624 kata lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: